Minggu, 30 Desember 2012

Techno : Nenek moyang kita adalah seorang pelaut!


Apakah kawan pernah mendengar slogan “nenek moyangku adalah seorang pelaut” ?, entah siapa orang yang membuatnya tapi apa yang dikatakan slogan itu memang benar adanya. Nenek moyang kita, bangsa austronesia yang berasal dari bumi nusantara ini, telah melakukan penjelajahan dari china, samudra hindia bahkan sampai benua afrika yang pada saat itu belum ada bangsa manapun yang bisa melakukan nya. 



Pada masa itu sekitar abad ke VII nenek moyang kita bisa masuk ke afrika dan madagaskar, bukan madagaskar nya kartun lho... tapi maksudnya pulau madagaskar yang berada di selatan benua afrika. disana nenek moyang kita membangun peradaban sekaligus membawa kebudayaan mereka, meskipun tidak ada peninggalan tertulis yang menyebutkan nya, namun dengan ditemukan nya berbagai kesamaan alat kebudayaan disana dengan nusantara semakin menguatkan bukti bahwa bangsa kita memang pernah kesana, jauh-jauh sebelum penjelajah ulung dari bangsa barat, arab maupun china berhasil menemukan nya.

Memang nenek moyang kita pada waktu itu memakai apa sehingga bisa menelaah dunia laut yang pada masa itu merupakan dunia yang penuh misteri dan ganasnya?. Jangan membayangkan dulu kapal-kapal besar nan megah seperti yang ada di film-film barat semacam pirates of caribean atau film-film bertema kelautan sejenisnya. Tapi hanya menggunakan perahu kecil sederhana sejenis kano. Tapi berkat kehandalan dari para pelaut kita. Pelaut kita berhasil mengarungi samudra lautan tanpa menggunakan peraltan-peralatan yang canggih

seperti yang sudah saya bahas pada artikel <sebelumnya> kalau kita sudah mempunyai kebudayaan dan keahlian yang tak kalah maju dari kebudayaan lain nya, salah satunya adalah kemampuan dalam bidang maritim. Bangsa kita mampu memproduksi berbagai macam perahu, uniknya hasil produksi perahu di setiap daerah memiliki ciri khas dan fungsi nya masing-masing. Umumnya perahu-perahu tersebut ada yang perukuran kecil hingga sedang, memiliki cadik di kanan kirinya dan kebanyakan digunakan sebagai alat transportasi antar daratan, berikut ini adalah mahakarya bangsa kita dalam hal kemaritiman :

Perahu lancang Kuning (Riau)








Perahu Lancang Kuning berasal dari rumpun dan daerah Melayu. Pada Zaman dahulu, Perahu Lancang Kuning merupakan lambang kekuasaan kerajaan dan digunakan sebagai perahu resmi kerajaan Siak Sri Indra Pura. Sekarang perahu ini digunakan sebagai alat transportasi masyarakat riau oleh suku asmat

Perahu Phinisi Bugis (Sulawesi Selatan)




perahu yang dirancang oleh suku bugis ini terkenal karena kehandalan nya mengarungi samudra dan proses pembuatan nya yang unik. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau dan memiliki berat sekitar 100-200 ton.

Perahu jukung (kalimantan)






Perahu jukung adalah perahu khas yang sering digunakan oleh warga suku Banjar. Bahkan, jauh sebelum suku Banjar muncul dan berkembang, perahu jukung telah digunakan sebagai alat transportasi penting dalam penyebaran penduduk dari pesisir menuju pedalaman Kalimantan. Dan juga sebagai perahu untuk membawa barang dagangan yang dipasarkan di pasar terapung.

Perahu borobudur (Jawa)



Kapal Borobudur adalah kapal layar bercadik ganda terbuat dari kayu yang berasal dari abad ke-8 di Nusantara yang digambarkan dalam beberapa relief di candi borobudur Kegunaan cadik adalah untuk menyeimbangkan dan memantapkan perahu.

Kapal Jung (Jawa)




Kapal jung kapal berukuran besar yang memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam. memiliki Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, keunikan lainya dari kapal ini adalah pada proses pembuatan nya yang tidak memakai paku atau bahan perekat lainya seperti perahu-perahu besar lainya di dunia. Dahulu kerajaan demak menggunakan nya untuk mengangkut pasukan dalam jumlah besar.

Perahu patorani (Sulawesi Selatan)







kapal ini pernah digunakan oleh armada Kerajaan Goa dan berfungsi sebagai kapal nelayan, khususnya untuk menangkap ikan terbang.

Perahu jukung karere (Papua)



perahu ini memiliki panjangnya sekitar 15 meter. Suku asmat; suku-suku di papua berada di pesisir pantai dan di pelataran gunung menggunakan nya untuk berdagang atau alat transportasi

oh ya disini saya hanya baru memaparkan sebagian kecil dari perahu tradisional yang varian nya mencapai puluhan atau ratusan jenis. Oleh karena itu bagi kawan yang masih penasaran bisa berkunjung ke museum bahari yang ada di jakarta, disana ada banyak koleksi kapal-kapal jadul, baik produksi lokal maupun kapal-kapal peninggalan belanda. Baik itu berupa perahu maupun sekedar miniatur nya (promosi dikit gak apa-apa kan hehe...) untuk informasi selanjutnya tentang museum yang satu ini bisa di googling sendiri. Terimakasih

Catatan : kadang orang salah mngartikan kalau perahu = kapal, padahal beda. Kapal itu ukuran nya lebih besar dari perahu dan dapat menampung satu perahu di dalamnya. Jadi perbedaan diantara keduanya hanya masalah ukuran nya saja.

Sumber dan gambar : dari berbagai blog dan google image




Tidak ada komentar:

Posting Komentar